Oleh: alislami | April 23, 2009

Penjual Gorengan

Malam begitu dingin dan sepi, hujan telah mematikan sebagian aktivitas manusia penghuni komplek perumahan yang ku tinggali ini. Jalanan basah bahkan sebagian penuh dengan air hujan yang tak mampu terserap oleh kerasnya aspal jalan. Angin bertiup cukup kencang sementara petir dan kilat menyambar tingginya pepohonan.
Motor shogun warna hijau ku gas kencang-kencang, berharap cepat sampai rumah karena suasana sangat tidak nyaman untuk berlama-lama di jalanan. Lika – liku jalan di komplek ku telusuri, kadang menengok ke kanan kiri sambil mengamati rumah-rumah yang sepi dan seolah tak ada aktivitas penghuninya. Satu dua mobil dan motor berpapasan, sorot lampunya ikut mewarnai percikan air yang tergenang serta menyinari rintik-rintik air hujan yang diibaratkan seperti uluran benang-benang sutra.
Tibalah aku di perempatan jalan di depan hotel Patra Darma, tikungannya tukup tajam hingga ku harus menurunkan kecepatan motor yang ku kendarai. Sementara lima puluh meter di depanku polisi tidur yang cukup tinggi memaksaku menurunkan kecepatan motorku hingga cukup pelan. Ketika laju motorku cukup palan melaju, didepanku berlawanan arah denganku tampak seorang laki – laki memikul dua gerobak yang cukup besar. Dibawah remang – remang lampu jalanan dan di bawah rintik – rintik hujan yang mulai reda laki – laki itu memikul gerobaknya yang tampak cukup berat. Sedangkan angina bertiup semakin kencang, seolah menahan gerak langkah kaki lelaki itu.
Yah dialah penjual gorengan yang biasa berjualan disekitar komplekku, orangya cukup tua, tak tahu sudah berkeluarga atau belum. Akan tetapi dari usianya sudah selayaknya di mempunyai beberapa orang anak yang berusia sekitas lima belas tahunan.
Subhanalloh..ternyata Engkau masih sayang kepadaku duhai Tuhanku…Engkau mengingatkanku akan makna syukur yang sesungguhnya. Ternyata begitu banyak manusia lalai dari bersyukur ketika kekayaan menghampirinya. Ketika pintu – pintu rizki mulai Alloh Ta’ala bukakan kepadanya maka ia akan lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Alloh Ta’ala, dan semua itu ia peroleh bukan semata – mata usahanya, akan tetapi karena karunia Alloh Ta’ala.
Ya Alloh, hambamu ini dilahirkan tanpa membawa apapun, Karena KaruniaMulah kini hamba bias menikmati nikmatny dunia. Berhiaskan pakaian yang indah dan rizki makanan dan buah – buahan yang berlimpah. Bisa menikmati kemudahan – kemudahan di dunia seperti mobil dan pesawat terbang.
Ya Alloh, hamba tahu di luar sana banyak sekali saudara – saudara hamba yang belum pernah merasakan semua itu. Makan ala kadarnya, bahkan kadang tidak makan karena tidak ada yang ia makan. Apalagi ranumnya buah-buahan yang tertanam di Bumi – MU ya Alloh. Dan tidak semua orang bisa merasakan nikmatnya berkendaraan dan naik pesawat terbang dimana hamba mampu melihat keagungan penciptaan-MU berupa pulau – pulau dan lautan luas yang Engkau ciptakan.
Seorang penjual gorengan, belum tentu sore itu mendapatkan hasil yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Apalagi cuaca sangat tidak mendukung, karena jarang manusia yang keluar ketika hujan begitu lebat dan petir serta angina berhembus cukup kencang. Akan tetapi, semangatnya untuk menjempu rizkimu begitu besar. Berbeda dengan diriku yang malas – malasan akan tetapi mungkin secara hitung – hitungan mendapat penghasilan yang jauh lebih besar ketimbang penjual gorengan tersebut.
Begitu banyak manusia lalai ketika rizki Alloh Ta’ala bukakan kepadanya. Ia lalai untuk bersyukur, bahkan ia tak tahu bagaimana seharusnya bersyukur. Harta yang ia dapatkan ia gunakan untuk mencari kesenangan / kebahagiaan yang semu. Ia gunakan untuk hura – hura ke Mall, karaoke, menonton film bahkan untuk sesuatu yang Alloh Ta’ala Murkai, seperti berzina dan minuman keras naudzubillah.
Padahal kebahagian sesungguhnya adalah ketika islam ada dalam hatimu, engkau tak perlu lagi semua harta berlimpah itu. Karena semua hartamu akan dipertanggung jawabkan di hadapan Alloh Ta’ala. Seorang beriman akan takut ketika pintu – pintu rizki dibukakan kepadanya, karena ia khawatir jika ia akan tergelincir dengan harta itu. Seorang beriman akan mengambil cukup untuk keperluannya saja sedangkan selebihnya ia nafkahkan di jalan Alloh Ta’ala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: