Oleh: alislami | Juli 5, 2008

Demo

Duhai kasihan

Kulihat akhwat-akhwat turun dijalanan

Berteriak-teriak diantara keramaian

Membawa panji-panji kemuliaan islam

Duhai kasihan

Akhwat-akhwat yang seharusnya mulia dalam islam

Begitu hina di jalanan penuh kenistaan

Bercampur baur antara laki dan perempuan

Meneriakkan kalimat-kalimat yang bukan tempatnya

Duhai kasihan

Orang-orang bodoh yang tertipu

Akan kejahilan diri-dirinya

Menganggap pandai padahal kopong

Tong kosong berbunyi nyaring

Duhai kasihan

Akhwat-akhwat di jalanan

Meneriakkan kata-kata yang keji dan hina

Menghujat dan mencaci

Saudara-saudara seiman

Duhai kasihan

Akhwat-akhwat yang mengaku memperjuangkan islam

Tapi malah melanggar syariat-syariat islam

Duhai kasihan

Diri-dirimu yang tecebur dengan penyimpangan

Termakan syubhat orang-orang bodoh

Dan pengikut hawa-hawa nafsu

Duhai kasihan

Kembalilah ke jalan agamamu

Agar engkau kembali mulia

Dibawah panji-panji islam

Duhai kasihan

Jagalah hijab dan matamu

Agar engkau kembali mulia

Membawa syiar-syiar islam.

Engkau yang masih berakal

Bukalah pintu hatimu

Karena islam tak kan mungkin tegak

Dengan cara-cara yang melanggar syariat islam

Engkau yang masih merasa

Pantaskah engkau turun di jalanan

Diantara keramaian manusia

Hati yang bersih mampu menjawabnya

Bukan hati yang condong

Pada golongan dan kelompoknya

TEMUKAN KEMBALI ISLAM DALAM DIRIMU

Iklan

Responses

  1. Maaf. Hargailah manhaj da`wah orang lain. Mereka berdemo pun pk dalil juga, ga sekedar demo2an. Mohon sekali kali Anda membuka dialog dengan orang yang Anda anggap pengekor hawa nafsu.

  2. Bismillah,
    Saudaraku….
    Setiap kelompok/golongan dalam islam mengaku punya dalil atas sgl sikap dan tindakannya!!Mulai Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Syiah, Sufi, Nahdatul Ulama, Muhammadiyah dll…
    Mereka semua pakai dalil!!!!
    Terus kenapa mereka terpecah belah, kenapa mereka berbeda?
    Pemahaman!!!Jawabnya (ingat perkataan kholifah Umar Bin Khotob )
    Kalaulah kita kembalikan pemahamannya menjadi satu, sebagaimana pemahamannya para sahabat, diimana agama islam ini turun kepada mereka, maka tak kan ada perselisihan, tak ada caci maki, hujat dan menghujat!
    Islam kembali jaya dan bersatu diatas islam dan sunnah!!
    Bagaimana islam akan jaya, sementara para pendemo itu saja tak mampu mengangkat celananya(alias isbal)….padahal hukum memanjangkan celana haram dan diancam dengan neraka, para ulama khibar telah ijma akan hal tersebut.
    Lebih mulia mana, akhwat turun kejalanan atau berdiam dirumah? Padahal Rosululloh melarang wanita kepasar!!!
    Saudaraku, ana dulu juga bagian dari mereka dan mungkin antum juga bagian dari mereka. Demi Alloh Mafsadatnya sangat2 lebih besar daripada manfaatnya.
    Semoga Alloh membuka pintu2 hati kita dan istiqomah di atas islam dan sunnah.

  3. Jazakumullah atas tanggapan Anda thd pendapat saya. Saya setuju dg pendapat Anda mengenai PEMAHAMAN yang menjadi masalah pokok. Termasuk pemahaman kita mengenai perbedaan pendapat para ulama dalam menghasilkan pendapat. Ingat bahwa perbedaan pendapat sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam.
    Yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Ahzab dan Jibril datang kepada beliau menyuruh beliau agar memberangkatkan para sahabat ke Bani Quraizhah yang telah membatalkan perjanjian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpesan kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” (HR. Bukhari dan Muslim), maka mereka berangkat dari Madinah menuju Bani Quraizhah namun di tengah perjalanan mereka waktu shalat ‘Ashar sudah hampir habis. Di antara mereka ada yang mengakhirkan shalat ‘Ashar sampai tiba di Bani Quraizhah sesudah keluar waktu. Mereka beralasan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Dan ada juga di antara mereka yang mengerjakan shalat pada waktunya. Mereka ini mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah perintah agar mereka bersegera berangkat ke sana dan bukan bermaksud agar kita mengakhirkan shalat di luar waktunya -dan mereka inilah yang benar- akan tetapi meskipun demikian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap keras terhadap salah satu di antara kedua kelompok tersebut. Dan hal itu tidaklah membuat mereka memusuhi dan membenci shahabat lain semata-mata karena perbedaan mereka dalam memahami dalil ini.( tulisan berwarna hijau dan biru ini saya ambil dari nasehat Asy Syaikh Ibn Utsaimin insya Alloh bisa dilihat di http://www.muslim.or.id )
    Pemahaman dalam mengambil rujukan yang sama pun bisa menghasilkan pendapat yang berbeda. Ini tentu bisa kita lihat dalam kasus diatas. Ini terjadi pas di zaman beliau Shallallahu `Alaihi wa Sallam apalagi di zaman setelah beliau Shallallahu `Alaihi wa Sallam meninggal.
    Termasuk dalam masalah isbal yang Anda anggap sebagai HARAM, dan ulama telah ijma` akan hal ini. Sesungguhnya masalah ini termasuk perkara yang khilafiyyah artinya para ulama dari zaman dahulu sampai zaman sekarang berbeda pendapat dalam menetapkan hukum isbal ini. Apakah mutlak setiap yang dibawah mata kaki adalah haram atau yang dibawah mata kaki dengan disertai kesombongan yang dihukumi sebagai keHARAMan.
    Saya mengutip tulisan Al Ust. Hatta Syamsuddin, Lc dalam salah satu tulisannya dib blog beliau bahwa masalah isbal ini kalau dalam bahasan ushulul fiqh masuk dalam bahasan lafadz `Aam atau Khoos serta Muthlaq atau Taqyiid atau Muqoyyad. Jadi kita jangan terburu-buru dalam mengambil suatu hukum. Jujur saja, saya memang condong bahwa isbal baik disertai sombong atau tidak sombong itu HARAM. Hanya saja saya tidak mau mengatakan bahwa orang yang isbal tanpa disertai sombong itu dosa. Jadi fatwa ini untuk diri saya sendiri, dan saya tidak mau memaksakan pendapat saya kepada orang lain, karena ini masalah khilafiyyah sejak zaman dahulu.
    Jadi kalau kita mau membuka buku-buku fiqh akan sangat banyak kita dapati permasalahan khilafiyyah yang semuanya menuntut kedewasaan kita dalam menyikapinya. Mungkin bisa kita baca Fikih Ikhtilaf-nya Dr. Yusuf Al Qorodhowy terbitan Robbani Press atau kalau yang lebih ringkas lagi bisa kita abaca artikel dari blognya Al Ust. Farid Nu`man yang judulnya “ Sikap Para Imam Thd Khilafiyah “.
    Sedang masalah demonstrasi bisa Anda buka di situs al-ikhwan.net tepatnya di kolom Raddusy Syubuhat dengan judul “ Apakah Berdemonstrasi Bid`ah ? “. Kemudian, kalau lebih lengkap lagi tentang masalah wanita keluar rumah, atau ikut serta dalam kehidupan sosial termasuk masalah boleh tidaknya keluar rumah bisa And abaca di buku Kebebasan Wanita-nya Asy Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah terbitan Gema Insani Press. Masalah mulia atau tidak mulia insya Alloh bisa kita simpulkan setelah Anda membaca buku atau artikel yang saya sebutkan diatas. Dan jujur saja, dengan segala kekurangan saya belum pernah menemukan dalil kalau beliau Shallallahu `Alaihi wa Sallam melarang perempuan pergi ke pasar.
    Termasuk masalah demo Palestina yang dianggap oleh Asy Syaikh Shalih Al Luhaidan yang menjabat sebagai Ketua Majelis Al A’la li Al Qadha’ Arab Saudi ini mengatakan, bahwa demonstrasi yang terjadi di jalanan Arab untuk membela warga Gaza termasuk membuat “fasad fi Al Ardhi” alias kerusakan di muka bumi. Tak sekedar itu, beliau juga menilai, demonstrasi sebagai hal yang tidak baik dan tidak mendatangkan kebaikan. Maka fatwa ini jelas-jelas menuai tanggapan keras dari para ulama dunia. Anda bisa baca di http://www.kispa.org.
    Terakhir, memang benar bahwa saya memang bagian dari mereka. Jujur saya telah memilih harokah PKS ini sejak 5 tahunan yang lalu. Kalaupun dulu Anda bagian dari harokah ini dan sekarang telah keluar darinya itu adalah hak Anda pribadi sebagai muslim. Yang penting dimanapun Anda berada entah di PKS, Jama`ah Tabligh, Hizbut Tahrir, Jihadiyyun, NU, Muhammadiyyah, Persis, ataupun Salafiyyah (khusus Salafiyyah banyak yang menganggap bukan sebagai harokah tapi tidak banyak juga yang menganggap kalau secara substansi mereka adalah harokah juga. ), dan lain-lainnya kita bertanggungjawab terhadaap keislaman kita sendiri. Ada kaidah Al Wasaailu Ta`khudzu Hukmal Maqooshid, bahwa Sarana-sarana itu mengambil hukum daripada tujuan. Kalau tujuannya baik maka sarana atau wasilah yang menuju kesana adalah baik pula. Kalau kita menggunakan sarana harokah sebagai alat meningkatkan keislaman kita serta menegakkan Islam di bumi ini maka sarana harokah bisa menjadi kebaikan pula di mata Islam.
    Saya pernah mendengar seorang ustadz berbicara bahwa dalam memasuki sebuah harokah yang sangat dibutuhkan adalah KEIKHLASAN. Karena tidak dipungkiri setiap harokah menganggap bahwa dia yang paling mendekati kebenaran dalam memahami Islam yang syamil. Termasuk saya sendiri. Saya menganggap kalau harokah ini yang terbaik tapi saya tidak mau kalau ada yang merendahkan, mencaci, menyesatkan, membid`ahkan, harokah-harokah lain dengan alasan-alasan yang lemah. Perlu diketahui semua harokah memiliki ahli syariah, sehingga kalau ada harokah A merendahkan harokah B pasti harokah B memiliki bantahannya pula. Maka kalau bantah-bantahan ini tidak dihentikan yang senang justru barisan orang-orang kafir.
    Perbedaan harokah sangat-sangat mirip dengan perbedaan hukum dalam masalah fiqhiyyah. Sama-sama perlu disikapi dengan rasa toleransi yang yang tinggi. Asy Syaikh Rasyid Ridha mengingatkan bahwa Kita Saling Tolong Menolong Dalam Hal Yang Kita Sepakati dan Kita Saling Toleran ( atau saya tambahi Kita Saling Menasehati ) Dalam Hal-hal Yang Kita Perselisihkan. Mohon maaf kalau saya banyak mengambil rujukan dari ustadz dan ulama dari harokah saya. Karena seperti yang saya bilang setiap harokah memiliki ahli syariah. Termasuk dari harokah Anda. Baarokallahu fiikum.
    NB: Maaf kalau saya terlambat membalasnya. Tentunya jawaban ini bisa dianggap atau ditolak karena sebagaimana perkataan Al Imam Malik bahwa semua perkataan bisa ditolak kecuali dari Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam.

  4. Bismillah,
    Jazakalloh khoiron tuk komentarnya, insya Alloh akan sangat bermanfaat buat semua.
    Cuman perlu saudaraku ketahui…
    Kita semua tahu, para Sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabiut Tabi’in dahulu juga banyak berselisih,
    Akan tetapi perselisihannya tidak sampai membuatnya bercerai berai??? Kenapa Sebabnya?
    Bukankah saudaraku juga menginginkan tegaknya daulah islamiyah?Terus Daulah seperti apa yang ingin di tegakkan?
    Jika setiap kelompok mengunggulkan pendapat dari Ulama Kelompoknya!!!Terus kapan kita bisa bersartu?Diatas Akidah dan Manhaj Islam yang benar?
    “”””Ketika dua orang mujtahid berfatwa, yang benar mendapat 2 pahala sedangkan yang salah mendapat satu pahala.””””
    Lantas apakah yang salah kita biarkan??Sehingga diikuti oleh banyak kaum muslimin??
    Tentu jawabnya”TIDAK” Akan tetapi kita luruskan dan kita beritahukan kesalahan pendapatnya tanpa menjelek-jelekkan mujtahi tersebut.
    Oleh karena itu seorang khibarul Ulama menulis buku “Tasfiyah Wa Tarbiyah”
    Dalam buku ini dibahas bagaimana agar umat Islam kembali bersatu daiatas akidah,manhaj,ibadah,akhlak dan muamalah yang benar yaitu melalaui
    Pemurnian ajaran islam dari syirik, bid’ah, khurofat dan yang bukan ajaran islam baru setelah itu pembentukan generasi islam daiatas kemurnian ajaran islam itu sendiri..
    Blog ini bukan untuk berdebat masalah dalil, karena memang bukan kapasitas saya. banyak para Ulama yang lebih fakih tentang ini. Dan saya punya cukup banyak buku-buku dalam bentuk file yang bisa saya kirim jika saudaraku memerlukan.
    Saya hanya berusaha membantu melukiskan kerisauan saya terhadap sesuatu yang secara nalar dan syariat sudah bertentangan!!
    Seperti Wanita Turun Di jalanan, Atau kampanye kumpul wanita laki-laki, atau mencaci maki penguasa, terus terpecahnya umat ini dalam kelompok-kelompok,
    belum lagi seseorang yang beitu bangganya mengaku sebagai mujahid setelah mengebom, belum lagi……….
    Bukalah mata hati, lepaskan segala bentuk ikatan golongan / kelompok
    Karena Ahlus sunnah di akhir jaman akan sedikit dan semakin terasing diantara manusia, terasing ketika berusaha mengamalkan seluruh syari’at Alloh Ta’ala.
    Laksana menggenggam bara api,
    Ahlus Sunnah juga bukanlah kelompok/golongan tertentu…Akan tetapi AHlus sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti apa-apa yang diturunkan oleh Alloh Kepada RosulNYa
    Sebagaimana para Sahabat Nabi memahaminya..Bukan pemahaman juru-juru khotbah di akhir jaman.
    “”Rosululloh SAW bersabda bahwa di akhir jaman nanti akan banyak juru khotbah dan sedikit sekali Ulamanya””
    Semoga kita tetep istiqomah diatas Islam dan Sunnah hingga akhir hayat kita.Amin
    Salam Ukhuwah, semoga suatu saat bisa bertemu.

  5. Jazaakumullah khoiron katsiiron atas tanggapannya lagi. Cuma `afwan saya masih mau menanggapi tanggapan Anda diatas. Kata-kata “di atas aqidah dan manhaj Islam yang benar” inilah yang kadang membuat harokah satu merendahkan harokah yang lain. Sebagaimana yang saya katakan semua harokah memiliki manhaj tersendiri dalam memahami Islam. IM, PKS, HT, JT, Salafiyyah, NU, PERSIS, Muhammadiyyah, Jihadiyyah, dan lain-lainnya, mereka semua memiliki manhaj yang berbeda-beda dalam memahami Islam. Maka sebagaimana yang telah saya tulis pula, kita perlu menerapkan kaidah dari Asy Syaikh Rasyid Ridho diatas serta kedewasaaan yang tinggi terutama di zaman sekarang dimana masalah fiqhiyyah semakin berkembang pesat seiring zaman. Apalagi di Indonesia. Maka, sebagaimana yang ditulis oleh Al Ust Farid Nu`man jangan sampai kita melakukan siaran ulang, karena banyak masalah yang umat sekarang perselisihkan, ternyata masalah itu sudah dibahas oleh ulama salaf dan akhirnya tergantung kepada kita, mau pilih yang mana. Teman saya bilang, mengutip kata-kata dari Dr. Amir Faishol Fath bahwa kadang permasalahan fiqh tidak kita ambil mana yang rojih dan mana yang marjuh. Akan tetapi mana yang lebih mashlahat untuk masyarakat, ataupun umat pada saat permasalahan itu terjadi.

    Maka yang saya kritik dari puisi Anda adalah sikap Anda yang seakan-akan merendahkan akhowat yang berdemo. Kemudian kata-kata “Termakan syubhat orang-orang bodoh. Dan pengikut hawa-hawa nafsu”. Bukankah ini merendahkan para ulama yang telah memfatwakan bolehnya berdemo. Entah itu mengkritisi kebijakan pemerintah (bahkan di Indonesiapun ada UU yang mengatur masalah ini, yang penting dilakukan dengan tertib, damai, dan tidak merusak fasilitas umum. Dan baik Anda mengakui atau tidak demo yang yang dilakukan PKS insya Alloh tidak melanggar UU tersebut), ataupun aksi munashoroh membela keadaan kaum muslimin yang sedang tertindas.

    Saya pernah mengobrol dengan seorang dosen dari Mesir, beliau mengatakan bahwa perkara demo ini dalam fiqh kontemporer sudah menjadi sesuatu yang maklum. Kecuali di Negara Saudi Arabia, karena memang mayoritas ulama disana menganggap bahwa ini bid`ah, tasyabbuh bil kuffar, menentang takdir (bisa Anda baca di dan di situs al-ikhwan.net tepatnya di kolom Raddusy Syubuhat dengan judul “ Apakah Berdemonstrasi Bid`ah ? “) bahkan ada yang menganggap demo sebagai salah satu ciri Khowarij.

    Sebagaimana yang Anda tulis “Ketika dua orang mujtahid berfatwa, yang benar mendapat 2 pahala sedangkan yang salah mendapat satu pahala”. Lantas apakah yang salah kita biarkan?? Sehingga diikuti oleh banyak kaum muslimin?? Tentu jawabnya “TIDAK”. Akan tetapi kita luruskan dan kita beritahukan kesalahan pendapatnya tanpa menjelek-jelekkan mujtahid tersebut”, inilah yang sedang krisis diantara kita, yakni meluruskan sambil menjelek-jelekkan padahal ini masalah ijtihadiyyah dan yang mengkritik belum melakukan DIALOG dengan yang dikritik. Telah berlalu bagaimana kritikan keras dari beberapa ulama dan ustadz-ustadz terhadap pendapat Dr. Yusuf Al Qorodhowy entah itu tentang masalah musik, cadar, parpol, dan yang lainnya terutama salah satu buku beliau Al Halal wa Al Harom Fil Islam.

    `Afwan kalau saya mengambil contoh ini : Pernahkah harokah Salafiyyah (maaf kalau saya menganggap mereka harokah) khususnya di Indonesia duduk bersama, berdialog dengan Harokah-Harokah Islamiyyah yang ada, misal dialog dengan PKS, HT, JT, atau NU sekalipun (sekedar diketahui NU pun memiliki sandaran dalil fiqh yang kuat juga dalam setiap ibadahnya) ? Sejauh yang saya ketahui mereka sering mengkritik dengan keras setiap harokah yang pendapatnya berbeda dengan mereka. Namun kalau diundang untuk berdialog mereka belum pernah hadir (tapi setahu saya pernah ada dialog antara Asy Syaikh M. Nashiruddin Al Albani dengan HT). Kalau saya kira, karena mereka menganggap kalau duduk dengan ahlul bid`ah berarti sama dengan ahlul bid`ah. Contoh: penulis buku MEREKA ADALAH TERORIS belum pernah duduk dengan bersama, berdialog ketika diundang dalam acara bedah buku SIAPA TERORIS SIAPA KHAWARIJ. Jadi seakan-akan mereka gencar mengkritik dengan keras setiap harokah yang ada, tapi kalau diundang untuk mendialogkan APA YANG MENJADI PERMASALAHAN mereka menolak hadir. Padahal mereka semua hidupnya sezaman. Lain kalau salah satu dari mereka sudah meninggal dunia.

    Inilah yang saya sesalkan dari puisi Anda. Ada kaidah yang mengatakan Tidak Ada Pengingkaran Dalam Masalah Ijtihadiyyah. Bahkan dalam artikel yang pernah saya sarankan untuk kita membacanya yakni blognya Al Ust. Farid Nu`man yang judulnya “ Sikap Para Imam Thd Khilafiyah “. Disitu disebutkan :

    “ Pandangan Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

    Dia adalah imam yang sangat keras terhadap bid’ah, khurafat, dan syirik. Namun, ia sangat bijak terhadap perselisihan fiqih. Beliau berkata:

    وَكَذَلِكَ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ إنَّمَا النِّزَاعُ بَيْنَهُمْ فِي اسْتِحْبَابِهِ أَوْ كَرَاهِيَتِهِ وَسُجُودِ السَّهْوِ لِتَرْكِهِ أَوْ فِعْلِهِ وَإِلَّا فَعَامَّتُهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى صِحَّةِ صَلَاةِ مَنْ تَرَكَ الْقُنُوتَ وَأَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبِ وَكَذَلِكَ مَنْ فَعَلَهُ

    “Demikian juga qunut subuh, sesungguhnya perselisihan di antara mereka hanyalah pada istihbab-nya (disukai) atau makruh (dibenci). Begitu pula sujud sahwi karena meninggalkannya atau melakukannya, jika pun tidak, maka kebanyakan mereka sepakat atas sahnya shalat yang meninggalkan qunut, karena itu bukanlah wajib. Demikian juga orang yang melakukannya (qunut, maka tetap sah shalatnya –pen).” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz. 5, hal. 185. Mauqi’ al Islam. Al Maktabah Asy Syamilah)

    Inilah bijaknya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, walau di akhir pembahasannya ia menguatkan pendapat TIDAK BERQUNUT, tetapi dia tidak mencap sesat atau marah-marah dengan yang melakukannya. Bahkan, beliau tidak mengatakannya bid’ah sebagaimana yang biasa dikira sebagian orang terhadapnya (bold orange dari saya). Memang, kalangan hanafiyah membid’ahkannya.

    Kemudian untuk masalah Wanita Turun Di Jalanan, dan seterusnya kembali saya tawarkan kepada Anda untuk membaca buku Kebebasan Wanita-nya Asy Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah terbitan Gema Insani Press dan situs al-ikhwan.net tepatnya di kolom Raddusy Syubuhat dengan judul “ Apakah Berdemonstrasi Bid`ah ? “.

    Jujur saja saya sebenarnya tidak ingin memperpanjang dialog kita ini. Karena dari kita seakan-akan sudah mempunyai basic yang berbeda dalam memperjuangkan Islam yang sama-sama kita anut, selain juga dana dan pikiran yang dikeluarkan dalam dialog kita ini he..he.. Cuma yang saya inginkan mbok ya Anda bersedia menghapus puisi Anda tersebut. Termasuk di arikel lain Anda mengejek KAMMI dengan dengan kata-kata “mejeng”. Ini kalau boleh saya anggap, Anda telah merendahkan segenap ikhwah yang ada di organisasi tersebut. Memang dari foto tersebut saya juga tidak setuju dengan perbuatan ikhwah KAMMI tersebut, tetapi jangan terus kita anggap mereka semua berperilaku demikian, sehingga Anda memberi singkatan “mejeng” dalam tulisan Anda. Jangan kita cepat menghukumi sesuatu dengan satu perbuatan yang kita anggap telah menyimpang dari ajaran Islam. Hendaknya kita menjaga tulisan kita dari mereka yang ingin menegakkan Islam walaupun ijtihad mereka kita tidak menyetujuinya.

    Terakhir, saya setuju kalau Ahlussunnah wal Jama`ah tidak bisa diklaim oleh satu harokah saja. Makanya sebagaimana yang saya ketahui harokah yang saya didalamnya tidak pernah menganggap bahwa mereka yang paling benar dan yang lain salah dalam memperjuangkan Islam. Dan justru sebaliknya, harokah yang kadang menganggap yang paling Ahlussunnah wal jama`ah malah terpecah belah yang setahu saya menjadi 2 kelompok besar, atau mungkin lebih di negara ini (dan ini tidak etis kalau saya tulis disini, karena keluar dari permasalahan yang sedang kita bahas). Maka silahkan harokah-harokah yang ada saling berlomba-lomba dalam kebaikan, memperjuangkan umat, Islam tanpa saling merendahkan satu sama lain. Takut-takut kita termasuk orang yang bangkrut, sebagaimana yang disinggung oleh Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, yakni orang yang banyak melakukan amalan tapi disamping itu dia juga banyak menyakiti hati orang lain, sehingga amalan kebaikannya diambil untuk menebus amalan buruknya dan kalau masih belum cukup juga amalan buruk dari orang yang disakiti tersebut diambil untuk dibebankan kepada orang tadi. Wallaahu A`lam.

    Tapi jujur saya suka dengan puisi-puisi Anda, karena jarang-jarang ada pemuda zaman sekarang yang pintar menulis puisi, tapi kalau ulama salaf maupun kholaf buaaaaaanyak yang pandai menulis puisi, bahkan Al Imam Asy Syafi`i pun memiliki kumpulan puisi.

    Paling terakhir semoga kita bisa ikhlash dalam berdialog, sebagaimana yang terjadi di zaman salaf sehingga walaupun mereka berbeda pendapat tapi hati mereka satu, saling menghormati dengan pendapatnya masing-masing. Baarokallahu fiikum wa Allohu A`lam.

    NB: kakak saya yang dah nikah juga alumni UNDIP jg he..he…

  6. Bismillah
    Assalamualykum
    Jazakumulloh khoiron katsiron tuk komentarnya. Semoga kita mampu manjaga keikhlasn kita dalam berdialog. Saya berusaha menghindari perdebatan(jidal) karena sangat-sangat tidak baik buat hati dan pikiran, tapi keterbukaan dalam menyampaikan argumen. Karena kita adalah saudara semuslim dan seakidah, meski manhaj yang kita tempuh mungkin berbeda.
    Komentar saudara begitu panjang lebar he……
    Kalau masalah dalil dan kitab rujukan!!!Saya bisa saja menyuguhkannya kepada saudara, seperti bantahan2 para ulama ahlus sunnah kepada para ulama harokah. Tapi…paling ga dibaca!!!
    Dan semua itu takkan berakhir dan hanya menyita hati, pikiran dan waktu kita.
    Jika kita menyakini ajaran islam sebagai jalan hidup kita, kita juga harus meyakini bahwa apa-apa yang telah ALLOH Ta’ala turunkan kepada kita lewat Rosul-Nya adalah telah sempurna,
    Seluruh aturan dan petunjuk telah ada, tidak ada yang baru.
    Soal Demo…..Muliakah seorang wanita bercampur dengan laki2 lain yang bukan muhrimnya dijalan?
    Tidak ingatkah saudara bagaimana para shohabiyah menjaga dirinya, apalagi setelah turun ayat hijab?
    Apakah hijab hanya untuk acara-acara SYURO? Tapi tidak ketika turun dijalanan!!!!!
    Termasuk para ikhwan KAMMI (he…saya dulu juga anggota KAMMI), ketika Syuro mereka pake hijab tapi ketika demo campur baur,
    Baahkan dengan mudah kita bisa berbaur dengan wanita yang bukan muhrim kita. PKS Juga YA???
    Atau saling menonton pertunjukan NASYID secara terbuka, padahal kita disuruh Menjaga Pandangan bukan?????
    Hal aneh lagi pas kajian!! kita sama akhwat pake hijab, akan tetapi Ustadnya malah leluasa ngeliatin akhwatnya????Wah…enak donk!!
    Bukankah beliau tahu hukum hijab, ATAU KARENA alasan KEMASLAHATAN, DALIL DALIL TENTANG HIJAB DAN MENJAGA PANDANGAN DIMAKNAKAN LAIN BAHKAN DITINGGALKAN????Menyesuaikan
    kondisi!!!KATANYA!!
    Padahal hukumnya sudah jelas dan para salafus sholeh tidak ada yang menyelisihinya.
    Lantas mana yang kita dahulukan??Hukum dari AlLOH ta’ala atau pendapat seorang yang di ulamakan oleh kelompoknya??Dengan alasan kemaslahatan!!!
    Tapi Biasanya sih para Ulama Harokah mencari dalil2 untuk mendukung perbuatannya, kalu perlu mengambil pendapat para ulama dari kelompok yang menentangnya!!!
    Nah……ini ciri-cirinya, kita terbuka aja friends??Bener ga?
    Soal Dialog masa saya harus bahas!!Ya sedikitlah…boleh
    ” Pernah liat VCD dialog Ust hakim Abdat dan Ust Abu Qotadah dengan PERSIS Jawa Barat??
    “Pernah dengar berita sekelompok salafiyoon di lombok diusir oleh warga”Tahu ceritanya?
    Mereka diusir setelah dialog Salaf dengan NU, diamana Kyai NU tersebut kalah terus para pendukungnya marah dan mengusir orang2 salaf ditempat tersebut!!Kasihan kan?
    Walaupun para Ulama sudah biasa terusir, seperti Imam Abdul Wahab dll.
    Cukuplah menjadi bantahan((kaya ulama aja)) dari pernyataan saudara!!
    “Apalagi satu kelompok diserang banyak kelompok(PKS,HT,JT,NU), kasihan kan Ustadznya???he…emang raja kungfu?
    Alhamdulillah jika saudara tidak setuju dengan kegiatan anggota KAMMI tersebut!!
    Tapi bagaimana lagi yah??itu sudah mendarah daging bagi mereka dan seolah-olah mereka merasa tidak bersalah??
    Mungkin karena lagi semangat-semangatnya yah??Generasi muda,intelek, penuh semangat!!Pengin nunjukin siapa jati dirinya.
    Jika merasa benar kenapa tersakiti??Atau ada yang salah?nah…perlu dikoreksi lah!!!
    Ni nasehat saya sebagai saudara seiman:
    “Jangan kita mengungul2kan kelompok kita, netral saja dalam berjuang demi tagaknya kalimat tauhid di muka bumi, hati-hati jangan2 kita masuk firqoh yang 71 dari 72 firqoh yang ada.
    Jangan sampai kita terkungkung pikiran kita dalam satu kelompok sehingga tak mau mengambil ilmu yang hak dari kelompok lain!!
    Setahu saya sih Jama’ah Tarbiyah solid(tapi yaitu banyak melanggar hukum dan sya’riat), jama’ah Salafiyah kuat dalam akidah dan hukum(tapi sebagian keras, kurang hikmah dalam berdakwah!!Walau
    yang disampaikan benar),jama’ah Tabligh bagus dalam berdakwah dan masih banyak lagi!!
    Tapi yang paling bagus sih…kuat dalam akidah,manhaj,ilmu,dan hukum tapi berdakwah kepada masyarakat dengan hikmah.
    Kalau prinsip saya sih…jika ada suatu hukum tetntang sesuatu lihatlah bagaimana keshohihan dalilnya, terus bagaimana para ulama memahaminya….nah ini jadi problem lagi!!
    lihatlah para salafus sholeh memahami suatu dalail, apakah mereka mengutamakan akal dan pendapatnya??Tentunya tidak.
    Wah…jadi banyak juga nih.

    Boleh disambung lagi!!

    Itulah kenapa kita berbeda!!!Dan Kenapa Setiap Harokah punya ulama sendiri-sendiri harokahnya!!!
    Alhamdulillah

  7. rofi : allaahumma innii a`uudzubika min syarri nafsii.
    Saya rasa lebih baik saya mundur dari dialog ini. Masing-masing dari kita sudah memiliki argumen dan basic yang berbeda, yang kalau saya pikir membuang waktu dan dana saya saja. Jazaakalloh khoiron katsiiron atas tanggapan dari Anda selama ini, dan kalau Anda mau mengirim dalil dan kitab rujukan silahkan saja kirim ke email saya. Insya Alloh akan saya baca kok. Baaarokallahu fiikum wassalamu`alaikum warohmatullahi wa barokaatuh.

  8. Bismillah,
    Jazakumulloh khoiron katsiron
    Memang blog ini bukan untuk berdebat,
    Afwan jika saya mengalihkan pembicaraan….
    Jika ingin menimba ilmu silahkan kunjungi http://www.muslim.or.id
    Insya Alloh lebih bermanfaat karena di tangani oleh orang2 yang cukup berilmu.
    Semoga ukhuwah tetep terjalin.

  9. Tadinya saya mau kasih tanggapan…

    Ternyata pemilik blog ini adalah orang yang jahil (bodoh) terhadap syariah …

    Tidak mengerti tahqiqul manath …

    Saya juga yakin .. tidak bisa membaca kitab berbahasa Arab ..

    Maka berdebat dengan orang seperti ini adalah lan yanfa’ ..

  10. Sudah sejak lama saya mengunjungi Muslim.or.id …

    Tapi isinya pun menunjukkan pengelolanya bahlul syariah … hanya membaca beberapa kitab dan mengambil keputusan dari satu arus pemikiran ..

    Sangat-sangat jahil ..! Lihatlah Syaikhul Islam .. lihatlkah Al Hafizh Ibnu Hajar .. lihatlah Asy Syathibi … mereka adalah ulama yang All Around mampu menyelesaikan masalah dengan banyak sudut pandang ..

    Allahu Yakdik!

  11. Bismillah
    Assalamualykum, barokallohufiik
    Umar ibnu khotob pernah ditanya oleh salah seorang sahabat” Wahai Umar, diakhir jaman umat islam akan terpecah kedalam beberapa golongan, padahal Al Qur’an mereka sama, Hadist yang mereka baca juga sama, akan tetapi kenapa mereka berpecah belah? Kemudian Umar menjuawab” Mereka berbeda dalam pemahaman”.
    Saudaraku…begitu banyak arus pemikiran dari sekian banyak orang-orang yang mengaku memperjuangkan islam. Akan tetapi apakah pemikiran2 tersebut mempersatukan islam? Sementara yang satu sibuk di parlemen, yang lain sibuk di pondok, keluar/khuruj, dan sebagian yang lain menghujat pemerintah dan saudara muslim yang lainnya.
    Saudaraku menyebutkan ulama-ulama sunnah seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar atau As Syatabi…akan tetapi sudahkah saudara mengenal pemikiran2 mereka? Seperti apakah pemikiran2 mereka? Mereka adalah ahlus sunnah sejati, mereka akan begitu marah ketika ,melihat muslimah turun di Jalanan, bercampur baur dengan laki-laki….
    Sebodoh-bodoh seorang muslim akan mengingkari hal tersebut, termasuk ana sendiri yang sangat tidak tega malihat kaum muslimah begitu mudahnya turun dijalanan.

  12. Asslamu’alaikum wr. wb.
    entahlah saya bingung mau berkata apa. cuma melihat perdebatan anda berdua saya hanya mau berkomentar.
    1. Mari kita lihat masalah yang lebih substansial dari pada yang antum perdebatkan. karena apa? sekarang kristenisasi, pemberian ideologi-ideologi Thagut seperti Komunis dan Atheis sudah begitu maraknya karena mereka mendapat bantuan dana yang sangat besar dari para yahudi Laknatullah dan berbagai kelompok yang ingin memecah dunia Islam. bukankah lebih baik kita berfikir tentang bagaimana menyelamatkan saudara-saudara kita yang blum memhami Islam secara kaffah daripada berdebat soal Isbal dan Demo yang dari masa salaf sampai Kholaf pun tetap akan menjadi perdebatan dan mewarnai khasanah Islam? rencana apa yang sudah anda dan harokah siapkan masing-masing?
    Jazaakumullah Khairan Katsira

  13. Rehat sejenak dari debat panjang ini. Btw, Ris, isterimu sudah lahiran toh? Gak ngasih-ngasih kabar. Piye iki…

  14. Ha..ha..ha…iya cas, alhamdulillah sudah lahiran…Kapan uuh menyusul..??? Hajar terus cas, jgn kasih kesempatan pegang kendali.. Aris Priyatmono

    Teknik Kimia UNDIP 03


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: