Senyum mulai memudar
Dihiasi titik-titik noda menghitam
Di satu sisi orang terbangun akan kebaikan
Di satu sisi orang terbangun akan nafsu-nafsunya
Gelap dan terang tak kan menyatu
Hitam dan putih pun slalu berpisah
Dalam lembaran daun-daun kering
Dalam panasnya pasir di tepi pantai
Cahaya ibarat ruh dalam kehidupan
Malam ibarat kematian yang datang
Kulewati lorong-lorong nan gelap
Di bawah bangunan-bangunan tua yang ditinggalkan
Tergenang air sebagian jalan menghitam
Jalan yang penuh gurat-guratan akan sejarah kehidupan
Bayang-bayang manusia tampak berdiri
Dalam gelap dan sunyinya malam
Dalam hembusan angin laut yang begitu mendalam
Membalut dan menusuk tubuh
Terlihat lambaian tangan para penjaja malam
Di temani senyum dan rayuanny yang mengembang
Tak jelas nafsu atau perut yang diperjuangkan
Hidup atau kemalasan yang dikorbankan
Mata-mata memandang kedepan
Menuju sorot lampu dalam keremangan
Sorot yang lembut menyentuh bak dalam buaian
Sorot yang mendesah penuh aroma bunga
Diantara perjuangan hidup dan dosa
Antara noda dan kehormatan
Penderitaan menjadi alasan
Bak mekarnya bunga dimalam hari yang gelap
Cahaya tak lagi pernah muncul
Alunan dzikir tak lagi berkumandang
Gerak ruku orang sholat tak lagi terlihat
Ayat-ayat suci tak lagi terlantun
Yang ada hanya kegelapan
Gelap hitam nan pekat
Bearoma merahnya gincu dan semerbaknya alcohol
Dihangatkan putihnya kepulan asap rokok
Di satu lorong terdengar
Ringkikan ketawa anak-anak syethan
Berpesta dengan dunianaya
Berpesta akan kemenanganya
Awan masih nampak kelabu
Api masih terasa panas membara
Hujan masih turun mengguyur
Tapi cahaya tak kunjung datang menyinar
Dimanakah sang cahaya?
Apakah kita manyimpan cahaya itu
Atau kita bagi agar semua menerima sinarnya
Agar semua bias melihat
Agar semua bias merasakan
Nikmatnya cahaya kebenaran.