Oleh: alislami | Agustus 17, 2012

Nikmat Kemerdekaan

 

Enam puluh tujuh tahun yang lalu kita Merdeka

Mengibarkan bendera mengangkat panji kemenangan

Menyayikan lagu – lagu kebangsaan

Mengikrarkan lantang didepan pejajah

Yah…kita sudah merdeka Bung,…

Kita tak lagi ditindas bangsa asing….,..

Kita sudah bebas menentukan nasib bangsa kita sendiri

Bangsa yang kaya akan sumber daya

Bangsa yang besar,…..

Bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika….

Bangsa yang gigih dan gagah berani..

Bung,…ini bangsa milik kita semua

Bukan bangsa milik keluargamu atau anak cucumu

Yang kau makan dan berak di tanah air ini

Ini bangsa milik rakyat Indonesia

Jangan kau kotori dengan tangan tangan KORUPSI dan KOLUSI….mu….

Bangsa ini bangsa Merdeka

Jangan kau Jual harta Negeri ini kepada Mantan Penjajah yang Kejam

Penjajah yang telah menindas dan memeras nenek Moyangmu

Bung, kita sudah Merdeka….

Dari hasil pengorbanan darah para pejuang

Mereka tak kenal kita….

Mereka juga tidak akan berpikir…

Hasil perjuangan mereka…akan lahir para KORUPTOR-KORUPTOR negeri ini

KORUPTOR yang telah menjual emas, minyak bumu, hutan, hasil laut…..ke tangan – tangan bangsa Asing..

Koruptor yang telah memiskinkan saudaranya sendiri,…

Koruptor yang telah membuat saudaranya kelaparan,….

Koruptor yang telah menghinakan martabat bangsa…

Koruptor yang telah memecah belah kita….

Memisahkan rakyat dan pemimpinnya……

Hidup Indonesai….Merdeka….

Enam puluh tujuh tahun sudah berlalu….

Makam makam para pahlawan sudah mulai penuh semak…

Saksi – saksi perjuangan sudah tinggal sedikit…

Jangan pernah kita lupa dengan perjuangan mereka…

Jangan pernah kita nodai darah-darah perjuangan mereka…

Walau hanya berucap Syukur atas nikmat Kemerdekaan yang kita rasakan….

Bayangkan Bung,…

Seandainya kita masih sibuk mengangkat senjata

Kelaparan dimana mana…

Penyakit menular dimana – mana,…

Tak ada ketenangan, taka ada hari esok…..

Tak ada Kedamaian yang kita rasakan sekarang

Merdeka!!!!

Oleh: alislami | Mei 18, 2012

Sebuah Perjalanan Kehidupan

Lama juga jari ini tidak menari nari diatas keybord laptop miniku. Tarian-tarian yang melahirkan kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf dan paragraf membentuk sebuah tulisan yang mampu memberi senyum kepada setiap manusia yang membacanya. Padahal semasa kuliah sudah menjadi kebiasaan berteman dengan pemuda-pemuda yang menggantungkan hidup dan kelangsungan kuliahnya dari menulis artikel-artikel di koran dan majalah. Dengan pandangan-pandangan yang tajam, ide-ide yang mampu merubah dunia dan peradaban manusia. Akantetapi sampai saat ini kemampuan tulisanku masih jauh panggang dari pada api.

“Man Jadda Wa Jadda” pepatah arab yang selalu disebut-sebut Ustad ketika mengajar bahasa arab, yang artinya tidak lain “siapa bersungguh-sungguh maka dia dapat atau bisa”. Yah walaupun tulisan ini masih kurang enak dibaca, bahasanya ga enak, pemilihan katanya kurang tepat, penjabarannya kurang jelas, akan tetapi tidak akan pernah menurunkan semangatku untuk menulis. Entahlah ada yang baca atau tidak yang penting tulisanku masuk dunia maya…siapa tahu mba maya mau membaca.

Tapi ngomong-ngomong tulisan ini temanya apa yah, kok jadi kemana-mana tidak jelas. Langsung saja lah, ceritanya dimulai tatkala libura cuti tahun ini. Seperti biasa liburan cuti selalu kusempatkan pulang kampung ke Jawa, mengunjungi orang  tua dan saudara serta sanak family. Sebuah kebahagaan bisa melihat kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Masih teringat setiap kenangan disetiap pojok tempat yang ku lewati.

Kebetulan musim tanam baru akan dimulai, teringat kalau musim seperti ini dulu selalu diajak bapak kesawah menebar benih padi atau mencari belut dibelakang traktor yang sedang membajak sawah. Seru sekali ketika harus beradu cepat sama teman-teman untuk menangkap belut yang keluar, sampai dorong dorongan satu sama lain. Ada yang pakai kaos kaki agar tangannya kesat sehingga belutnya mudah ditangkap, adapula yang kebiasaanya menggigit belut ketika belut sudah ditangkapnya. Itu baru carita belut, belum lagi carita mencari ikan dengan ngambur, nawu, mancing atau yang lebih parah dengan mrotas. Mungkin istilah-istilahnya asing bagi pembaca sekalian, karena ini tidak semuanya ada dikamus bahasa jawa apalagi bahasa indonesia.

Kalau teringat masa kecil, seharusnya menjadikan pelajaran hidup bagi kita. Waktu yang sudah kita lewati tak mungkin akan berbalik kebelakang. Tidak mungkin kita pagi-pagi berangkat kesekolah untuk bertemu teman-teman SD atau SMP kita, pagi – pagi mandi dan pakai seragam sekolah kita, sementara orang tua kita sudah siap menyiapkan sarapan pagi kita. Waktu telah mengantarkan kita tumbuh dewasa. Dua puluh tujuh tahun sudah waktu kita lewati bersama saudara dan teman yang silih berganti, satu datang dan satu pergi. Bahkan mungkin sudah ada yang pergi untuk selama-lamanya.

Cepatnya waktu kehidupan menyadarkan diri ini agar terbangun dari kelalaian panjang. Terbuai akan semunya dunia dan segala isinya. Sungguh benar, dunia telah mengasatkan hati dan pikiran manusia. Seolah-olah dia akan hidup selama-lamanya dengan gemerlap harta dan segala isi didunia ini. Dua puluh tujuh tahun seolah terasa begitu cepat, padahal dia hampir dari setengah umur manusia. Sungguh indah Alloh Ta’ala ciptakan kehidupan ini, ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang kaya dan ada yang miskin.

Dari sekian banyak pengalaman dalam perjalanan kehidupan manusia, seolah bagitu cepat kita lalui. Ada saat saat kita menangis dan ada ada saat saat kita dibuat tersenyum tertawa bahagia. Tapi ada satu hal yang seharusnya tidak pernah dilupakan oleh manusia yaitu dalam setiap perjalannya dia selalu di awasi, selalu dilihat oleh Tuhannya Alloh Ta’ala. Kita tak mampu melihat, akan tetapi Alloh Ta’ala selalu dekat dengan kita. Setiap ranting dan daun yang jatuhpun Alloh Ta’ala mengetahuinya. “Selamat Ulang Tahun”

Oleh: alislami | Oktober 16, 2010

Mensyukuri Nikmat

Syukur adalah sebuah kata yang sangat mudah diucapkan oleh setiap manusia, akantetapi merupakan perbuatan yang sangat sulit dilakukan oleh manusia”.

Sore ini kita (aku dan isteriku) masak makanan kesukaan kita. Makanan yang juga menjadi favorit anak2 kost kala aku masih sekolah dulu dan mungkin makanan paling banyak dibuka disore dan malam hari disetiap pinggir jalanan kota-kota besar. “Penyet” yah betul saudarku. Penyet merupakan makanan sederhana dan enak untuk mengisi kekosongan perut ini. Penyet juga merupakan makanan favorite bagi cacing-cacing peliharaanku diperut ini.

Seperti biasa, aku menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak, mulai cabe, bawang merah, bawang putih, tomat, garam, terasi dan gula. Sedangkan lauknya telor, ikan asin dan Alhamdulillah bisa beli nugget. Sementara isteriku menggoreng bahan2 yang sudah kusiapkan. Setelah selesai masak dan bikin sambal, saatnya kita menyelesaikan intik dari kegiatan yang sudah kita rencanakan ini yaitu Makan – Makan.

Saat aku sedang lahapnya menyantap makanan yang kita masak berdua, tiba – tiba isteriku nyeletuk (ngomong).

Isteri : “ Seringkali kita lalai untuk bersyukur tehadap apa yang kita makan, walau hanya mengucapkan doa sebelum dan sesudah makan.”

Isteri : “ Hari ini kita makan telor, padahal kita tidak pernah menciptakan sebutir telor itu sendiri. Hari ini kita juga makan ikan asin, apakah kita pernah mampu menciptakan seekorpun ikan asin ke dunia ini. Begitu juga dengan ayam yang kita makan malam ini, semua itu adalah ciptaan Zat Yang Maha Mencipta atas segala sesuatu. Zat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini sehingga tercipta kehidupan yang sedang kita jalani ini.

Isteri : “Begitu besar ciptaan Alloh Ta’ala, akan tetpi begitu banyak kita lalai untuk memikirkannya dan mensyukuri segala nikmat dan karunia-NYA.

Benar sekali apa yang dikatakan istriku malam ini. Manusia seringkali lalai untuk bersyukur terhadap nikmat-nikmat dan karunia yang telah Alloh Ta’ala berikan kepadanya. Justru kebanyakan manusia malah semakin ingkar tatkala kenikmatan itu diberikan kepadanya.

Begitu banyak manusia, ketika harta diberikan kepadanya, dia gunakan harta itu dijalan yang Alloh Ta’ala tidak ridhoi. Mulai dari minuman keras, berjudi, bermain wanita bahkan yang lebih parah lagi dia jadikan hartanya sebagai pinjaman riba bagi saudara-saudara yang miskin disekitarnya. Mungkin kita tak akan kerasa mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang kita inginkan walaupun mahal harganya. Akan tetapi, akan sangat kerasa ketika kita mengeluarkan sedikit uang untuk sedekah atau membantu fakir miskin disekitar kita. Begitu banyak manusia menghabiskan jutaan rupiah belanja di Mall – Mall, sedangkan untuk infak masjid setiap jum’at paling terkumpul 500 ribu rupiah.

Satu hal sifat manusia yang diakibatkan oleh harta tersebut adalah sifat Takabur atau Sombong. Manusia akan merasa lebih baik ketimbang manusia lainnya ketika dirinya memiliki kelebihan harta yang ada pada dirinya. Akibatnya dia tidak mau bergaul dengan seseorang yang ekonominya lebih miskin darinya. Dia akan lebih memilih bergaul dengan teman2 yang memiliki strata ekonomi yang sama dengannya, atau yang lebih tinggi darinya. Padahal Alloh Ta’ala tidak pernah melihat derajat manusia dari harta yang dimilikinya, akantetapi dari keimanan yang ada pada dirinya.

Begitulah Alloh Ta’ala ciptakan manusia, disanalah manusia diuji siapa-siapa yang mampu berfikir dan melewati ujian tersebut maka dialah yang berhak mendapatkan kenikmatan abadi yang kekal didalamnya yaitu surge firdaus kelak. Disinilah kita juga mendapatkan pembenaran bahwa Kebenaran suatu Agama bisa dilihat dari bagimana kebaikan dan keburukan terpisahkan dengan jelas bagi penganutnya. Karena ada suatu agama dimana tidak bisa dipisahkan mana penganutnya yang mempunyai keimanan tinggi dan mana yang tidak.

Semoga sedikit tulisan ini, bisa membawa perubahan pada diri kita untuk lebih bersyukur terhadap segala kenikmatan yang kita rasakan selama ini. Kenikmatan yang tak pernah mamapu kita menghitungnya. Amin

 

Oleh: alislami | September 2, 2010

Penjual Es Degan (kelapa Muda)

Kehidupan ini bukanlah main – main, bukanlah hanya untuk senang – senang, bukan pula hanya sendau gurau belaka. Kehidupan ini tak lain adalah ujian bagi seorang manusia. Sebuah jalan untuk menuju kepada kehidupan yang kekal abadi. Manusia diuji sesuai dengan kemampuannya, ada yang diuji dengan hartanya, kedudukannya dan anak – isterinya. Semua tidak lain adalah untuk mengetahui keimanan seseorang. Mengetahui siapakah yang pantas untuk mendapatkan kemenangan di hari akhir kelak.

Sore itu, di Bulan Ramadhan tepatnya tanggal 22 seperti biasa aku hendak pergi ke kota untuk beli makanan untuk berbuka. Rasanya nikmat sekali berbuka dengan segelas es degan. Maka kuputuskan untuk mampir ke kedai kelapa beli degan satu biji sebagai makanan berbukaku. Sore semakin gelap, tanda-tanda berbuka pun sudah semakin dekat. Beberapa penjual gorengan sudah mulai gulung tikar menutup jualannya.

Akhirnya pluit tanda berbuka pun berbunyi sebagai tanda waktu berbuka sudah tiba, perlu diketahui bahwa tanda waktu berbuka dan sahur ditempatku ditandai dengan pluit keras dari kantor tempatku bekerja. Wah, suda buka pikirku sementara kelapa deganku baru mau di kupas sama penjual degan tersebut. Penjualnya ada tiga orang, satu keluarga dengan satu anaknya yang sudah cukup besar. Bapaknya sudah cukup tua dan beruban, sementara ibunya juga sudah tampak keriput di mukanya sedangkan anaknya wanita yang sudah cukup berumur dan dewasa. Kedai ini memang langgananku, disamping ramah orangnya, mereka juga sangat perhatian sama pelanggannya dengan memberikan pelayanan yang sangat baik, kadang bahkan dikasih lebih utnuk pelanggannya.

Akhirnya Adzan maghrib berkumandang,..Allohu Akbar..Allohu Akbar…terdengar dari sebuah surau terdekat. Bapak tersebut tiba-tiba meminta izin untuk pergi ke masjid dan menyerahkan pekerjaan mengupas kelapa muda tersebut kepada anaknya yang perempuan. Bapak tersebut langsung mengambil sarung dan naik sepeda berangkat ke masjid. Subhanalloh…Allohu Akbar..Allohu Akbar..

Seorang pedagang kecil yang hari – harinya disibukkan dengan berjualan es kelapa muda memiliki semangat yang tinggi untuk sholat berjamaan dimasjid. Padahal waktu itu sedang rame-ramenya pembeli. Akan tetapi, dia lebih mendahulukan panggilan Alloh Ta’ala ketimbang harta duniawi yang belum tentu menyelamatkan dia dihari akhir kelak.

Begitu banyak manusia lalai dengan kehidupannya, begitu banyak manusia terlena dengan harta yang ada pada dirinya. Tatkala susah manusia begitu tulus dan khusunya berdoa meminta dilapangkan rizkinya, dimudahkan urusan dunianya. Akan tetapi tatkala Alloh Ta’ala sudah mengabulkan doanya, manusia lalai dari bersyukur dan mengingat Alloh Ta’ala.

Begitu banyak manusia dengan gaji besar puluhan juta rupiah dan pekerjaan yang tidak begitu membutuhkan tenaga otot akan tetapi sangat berat untuk datang kemasjid menunaikan panggilan adzan, menunaikan panggilan Alloh Ta’al. Dzat yang telah memberinya kehidupan, memberinya rizki dan kenikmatan hidup didunia. Hartanya telah memberatkan langkahnya untuk dating ke masjid. Hartanya pula yang telah membutanya tertidur pulas tatkala adzan shubuh berkumandang.

Semoga tulisan ini menjadikan pelajaran bagi kita untuk kembali mengingat hakikat kehidupan ini. Bukanlah harta yang kita kejar bukanpula pangkat/kedudukan yang kita kejar. Harta dan pangkat hanya mampu menghantarkan kita sampai liang kubur kita. Sementara hari akhir sudah jelas dan nyata bagi kita. Kematian bagi setiap manusia sudah jelas dan pasti, tinggal menunggu jadwal kita. Masihkah kita bermain-main dengan kehidupan ini?

Oleh: alislami | Mei 28, 2010

Hikmah Dibalik Musibah

Pagi tadi jam 05.15 WIB tanggal 7 April 2010 Gempa kembali mengguncang bumi Sumatera. Getarannya begitu kuat terasa di Sumatera bagian utara, Aceh, Medan dan Pangkalan Susu tepatnya. Tatkala adzan subuh baru berkumandang dan sebagian besar manusia masih tertidur dari tidurnya. Mengerikan sekali ketika bumi yang kita pijak bergoyang, ketika rumah dan segala isinya bergoyang. Terbayang ketika dinding tembok rumah kita hancur dan retak. Terbayang ketika atap rumah kita roboh menimpa. Na’udzubillah…
Sungguh sebuah bayang-bayang ketakutan yang menimpa setiap hati manusia. Entah dia seorang muslim, entah dia seorang nasrani, yahudi, konghucu maupun yang tak bergama sekalipun akan merasakan hal yang sama. Semua takut kematian, semua takut ketika ajal menjemput secara tiba-tiba. Karena semua merasa bahwa dirinya belum pantas bertemu sang Kholik. Karena semua merasa jauh dari Alloh Ta’ala, penuh dosa dan kemaksiatan.
Setiap peristiwa musibah yang kita lihat bahkan kita saksikan langsung harusnya menjadi cambuk bagi kita untuk kembali mengingat siapa jati diri kita. Seharusnya menjadi pintu taubat bagi kita untuk kembali mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. Karena kita akan merasa begitu kecil di hadapan-NYA. Kesombongan yang selama ini kita bangga-banggakan tak ada artinya sama sekali dihadapan-NYA. Begitu mudahnya Alloh Ta’ala memusnahkan mahluk ciptaan-NYA.
Sebuah nasihat berharga yang pernah saya baca”Berdoalah agar kita bias mengambil ibrah/pelajaran dari setiap keburukan atau musibah yang menimpa orang lain dan berdoalah agar keburukan itu tidak menimpa kita dan orang lain yang mengambil pelajaran dari diri kita.”
Alhamdulillah nafas masih terhembus, denyut nadi masih berdetak. Bertobatlah dan segerlah memperbaiki diri kita. Ketika kita malas ke mulai malas ke Masjid, ketika kita mulai malas membaca Al Qur’an, ketika kita mulai lalai untuk berinfaq dan shodaqoh. Maka kembalilah kepada jalan yang lurus, hati yang bersih dan suci. Karena setiap manusia meyakini bahwa dia memiliki Rabb yaitu Alloh Ta’ala akan tetapi kebanyakan manusia mengingkari bahwa hanya Alloh Ta’ala yang berhak untuk di sembah dan diibadahi secara benar.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.